• Kondisi Sosial Budaya Desa Mangkon



             Indonesia adalah Negara yang memiliki berbagai pulau yang tersebar di seluruh wilayah, adapun pulau – pulau besar di Indonesia terdapat 4 pulau termasuk jawa, jawa sendiri dibagi menjadi lima wilayah yaitu DKI Jakarta, Jabar, Jateng, DIY, dan Jatim. Jatim sendiri memiliki pulau diluar wilayah yaitu pulau Madura, Madura terbagi menjadi 4 wilayah diantaranya bangkalan, sampang, pamekasan dan sumenep. Bangkalan sendiri adalah wilayah yang berada paling barat di pulau Madura, yang memiliki luas wilayah sebesar 1.260,14Ha, dan memiliki sebanyak 18 kecamatan dan 8 kelurahan, salah satu kecamatannya ialah arosbaya dan salah satu desanya ialah mangkon.
    Desa adalah keasatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk megurus rumah tangganya sendiri berdasarkan hak asal-usul dan adat istiadat yang diakui dalam pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten. Masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang mendiami suatu wilayah tertentu yang ukurannya lebih kecil dari wilayah kota. Menurut Paul H. Landis Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa, dengan cirri-ciri sebagai berikut :
    a.       Mempunyai pergaulan hidup yang saling mengenal antara ribuan jiwa
    b.      Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
    c.       Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi oleh alam seperti : iklim, keadaan alam, kekayaaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
             Keadaan masyarakat sebuah desa dapat dilihat dari tipologi desa, tipologi desa mangkon sendiri dapat dilihat dari system ikatan kekeluargaan, dan type tersebut yaitu type desa geneologis dimana penduduk desa masih memiliki hubungan pertalian darah. Selain itu kondisi social di Desa Mangkon 
    dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya :

    a.      a. Aspek ekonomi
         Sebagian besar masyarakat Desa Mangkon rata-rata bekerja di pelayaran terutama luar Negeri diantaranya Portugal, Brasil dll. masyarakat meyakini bahwa bekerja di pelayaran gaji yang dihasilkan lebih besar daripada bertani. Tak jarang para remaja khususnya laki-laki setelah lulus SMA lebih memilih berlayar daripada meneruskan pendidikan di bangku kuliah dengan alasan dapat meringankan beban orang tua dan juga terdapat salah satu warga khusus yang akan mengurus keberangkatan mereka ketika akan bekerja di Pelayaran, di rumah tersebut terdapat symbol “ jangkar” yang berada di gedung samping rumah.
    Masyarakat Mangkon yang tidak bekerja di pelayaran rata-rata menjadi petani kebanyakan dulunya komoditi yang paling banyak ditanam adalah kacang tanah, akan tetapi ketika dilakukan wawancara kepada Warga Desa Mangkon, warga mengatakan akan beralih ke komoditi padi dikarenakan hasil panen kacang tanah rendah terbatas pada biaya pada waktu penanaman sampai panen. Jadi kemungkinan petani Desa Mangkon akan beralih ke komoditi padi sebagai sumber pangan utama   

    b.   Aspek Agama dan Kebudayaan
          Kebudayaan adalah seperangkat peraturan atau norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang kalau dilaksanakan oleh para anggotanya melahirkan perilaku yang oleh para anggotanya dipandang layak dan dapat diterima. Masyarakat Madura memiliki kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat pada umumnya, meskipun Madura masih berada di Wilayah di Indonesia tapi karena faktor letak membuat kebudayaan-kebudayaan di Indonesia berbeda, dari satu daerah-daerah lain pasti memiliki perbedaan kebudayaan. Masyarakat Madura khususnya warga Desa Mangkon masih meyakini hal yang dianggap tabu misalnya membakar dupa pada malam jum’at seperti halnya tetap mempertahankan kebudayaaan seperti agama budha. Selain itu warga Desa Mangkon tetap mempercayai ketika berdo’a di kuburan salah satunya Makam Agung yang dianggap keramat keinginannya akan terkabul, dikarenakan keyakinan yang tinggi makam agung menjadi tempat yang keramat yang seharusnya itu hanya dijadikan peninggalan sejarah ataupun pengingat seorang sesepuh yang memperjuangkan tanah leluhur yang dahulu bukan untuk diyakini atau menduakan Tuhan.
       Masyarakat Arosbaya khusunya Mangkon yang mayoritas warganya pergi berlayar, sebelum berangkat menuju tempat terlebih dahulu berziarah (Nyekar) ke Makam Agung. Karena hal itu diyakini bahwa akan membawa berkah salah satunya cepat naik pangkat. Makam Agung sendiri berada di Desa Cendagah Kecamatan Arosbaya yang dulunya ada sejarah dengan Desa Mangkon sehingga hal itu yang menyebabkan warga menganggap keramat Makam Agung.
    Selain membakar kemenyan / dupa masyarakat desa Mangkon ketika malam jum’at mereka biasanya membagikan makanan hanya sepiring untuk di berikan kepada tetangganya ( arebbe ). Masyarakat tetap menyakini hal yang seperti itu dengan artian arebbe tersebut sebagai sarana yang diyakini untuk mengirim sesajen / sesaji kepada keluarganya yang sudah meninggal. Sebelum sesajen / sesaji di bagikan di lakukan ritual-ritual yaitu dengan mendoakan sesajen tersebut (khusushon). Sedangkan ketika hari ke 100 orang yang sudah meninggal mereka melakukan haul (memperingati hari wafatnya). Dengan mengundang para kiai dan para tentangga untuk menghatamkan Al-qur’an bagi yang ekonominya mampu. Dan biasanya bagi para pemudanya ketika ada orang meninggal mereka yang membantu menggali dan menggotong mayat sampai pemakaman.  
    Ketika akan mengadakan perayaan pernikahan, masyarakat Mangkon tetap meyakini untuk mencari tanggal yang bagus dengan menanyakan kepada kyai. Status sosial warga Mangkon dapat dilihat ketika mereka mengadakan perayaan pernikahan yang semakin lama perayaan tersebut dilaksanakan, maka status social yang disandang termasuk golongan menengah keatas. Dalam sebuah acara pernikahan  masyarakat golongan menengah keatas biasanya terdapat sebuah tradisi yang salah satunya yaitu mengundang sebuah grub orkes melayu ( dangdutan ) dan disitu para pemuda yang datang ke presepsi pernikahan diberi uang oleh tuan rumah (yang memiliki gawe) untuk menyawer para biduan, uniknya apabila keluarganya banyak yang berlayar uang saweran yang diberikan bukan rupiah melainkan dolar. Masyarakat Mangkon tidak beda jauh dengan masyarakat Madura pada umumnya yang di kedepankan adalah harga diri, dan ketika mereka mengadakan perayaan dan mengundang orkes melayu dan yang menyawer hanya sedikit maka mereka merasa malu kepada para tamu undangan ataupun kepada masyarakat sekitar. Maka dari itu mereka merelakan mengeluarkan banyak uang untuk di bagikan kepada para pemuda yang datang ke undangan untuk tetap menyawer biduan.

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.